Tepian
Terdengar suara seorang laki-laki dari luar rumah, suara yang sudah cukup familiar di telingaku. Pagi-pagi begini cuman ada satu mahkluk Tuhan yang mau mengorbankan paginya untuk datang kesini. Ya, dia adalah…
.
.
Malaikat maut
Hahaha. Bercanda, broo..
Dia adalah Ancer. Seorang keturunan tionghoa yang mengaku lahir dari rahim toraja dan dibesarkan di sebuah kota kecil di Jerman.Ya, benar sekali….,Berau. Rumahnya lumayan jauh dari tempat tinggalku, hitung-hitung jarak dari bumi ke planet Pluto lah, jauh bett. Perawakannya yang pendek membuatnya tampak seperti hobbit dari serial TV Tuyul dan Mba Yul. Tapi jangan salah, walaupun pendek macam hobbit, dia itu mantan pemain basket Sparta, klub basket di SMA. Norak banget nama klubnya, udah kayak tulisan alay di kaos-kaos oblong anak punk, hahaha. Selain bermain basket, dia juga jago dalam urusan gunting-mengunting. Maklum, dia itu anak mading yang anggotanya masih bisa dihitung pake jari, dan sialnya aku masuk dalam hitungan tersebut. Si kampret kebetulan menjabat sebagai wakil ketua, dan aku sebagai supervisor di salah satu divisi terpenting, layout dan pengawas gorengan. Singkatnya, dia itu teman sekelasku di SMA. Udah, itu aja deskripsinya. Sebenarnya aku mau cerita tentang hubungan Ancer sama pacarnya, tapi setelah itu aku teringat kalau dia itu kaum jomblo pinggiran yang nasibnya sudah digariskan sejak lahir. Gimana mau pacaran coba, tiap ketemu sama lawan jenis bawaanya pengen dicium aja. Emang mesum sih si kampret. Hahaha. Sori-sori, kebiasaan.
Ok, back to the toviekk.
Si kampret yang satu ini adalah satu-satunya orang yang rela datang kerumahku di pagi buta hanya untuk sebuah obrolan santai yang sebenarnya nggak penting-penting amat. Topik langganan tiap pagi pun meliputi; percintaan, kuliah, masa depan, ngomongin perempuan, ngomongin perempuan, ngomongin perempuan, dan juga konspirasi-konspirasi yang sebenarnya sudah tidak relevan lagi untuk dibicarakan di zaman modern seperti sekarang ini. Karena kewajiban sebagai pelajar SMA sudah tidak ada lagi, si Aaron nih, ehh salah. Si Ancer nih, sering banget ngajak diriku ke tepian sungai segah yang kebetulan dekat dengan tempat tinggalku. Tempat tinggal Koh Afung sebenarnya lebih dekat, sih. Tapi karena si Ancer nggak kenal, dengan terpaksa Koh Afung tidak diajak. Padahal Koh Afung orangnya asik banget, walaupun umurnya sudah tidak tujuh belas lagi. Sedih. Karena sudah tidak muda lagi, Koh Afung pun tidak luput dari yang namanya penyakit. Parah bangetlah pokoknya, sampai-sampai kalau bersin bisa keluar uang recehan dan tak jarang yang keluar bisa kos-kosan putri. Hahaha. Ini kok malah ngomongin Koh Afung, sih??. Kualat nih bisa-bisa.
Jam menunjukkan
pukul 5:40. Mataku masih terasa berat untuk berkordinasi dengan kemauanku pagi
ini. Tubuhku seakan-akan bergumam “udah, tidur aja lagi. Bilang aja lu lagi
sakit kepala”. Tentu itu bisa menjadi alasan terbaik untuk kembali ketempat
tidur, tapi hal itu tidak menjadi penghalangku untuk melangkahkan kaki ke kamar
mandi. Ku basuh wajah tampanku ini dengan air, lalu kugosok gigiku dengan pasta
gigi hijau bermerek sunlight. Setelah terasa segar, aku pun siap menjalani
kehidupan pagi ini. Lebay banget. Kuylah
keluar
Terlihat
si kampret sedang asik melakukan stretching dengan celana pendeknya,
seakan-akan gerakan konyol itu bisa membuat persendian dan otot-ototnya menjadi
lebih sehat. Padahalkan nggak juga.
“Rambutmu kok gitu?’’sambil menunjuk rambut Koh Afung. Ehh, maksudnya rambutku.
“Baru bangun, makanya begini bentuknya”jawabku sambil
menata gaya rambut dengan tangan baik, yaitu tangan kanan.
“Potong aja, cuy!”,udah kayak tukang cukur aja nih
rongrang.
“Malas, cuy. Mau kupanjangin rambutku, biar kayak Virzha,
kan aku ngefans sama Afghan”
“Lah, apa hubungannya, kampret?!”
“Hahaha, udahlah. Mari kita ke tepian”.
Tepian
sudah menjadi tempat favoritku di kota ini. Letaknya tidak jauh dari rumahku.
Bisa ditempuh hanya dengan berjalan kaki selama lima menit. Di sepanjang jalan
Jl. Ahmad Yani ini, terdapat banyak ruko yang berhadapan langsung dengan sungai
segah. Pemiliknya kebanyakan orang-orang dari keturunan tionghoa. Pohon-pohon
yang tidak kutahu namanya berjajar rapi di sepanjang jalan. Di sini, terdapat dermaga kecil yang
diperuntukkan khusus untuk perahu motor, warga lokal menyebutnya dengan sebutan
ketinting. Walaupun jembatan yang menghubungkan antara Kecamatan Tanjung Redeb
dan Kecamatan Gunung Tabur sudah
dibangun, ketinting masih menjadi salah satu moda transportasi sebagian
masyarakat di sini. Suara bising mesin ketinting itu sudah menjadi hal yang
lumrah bagi warga sekitar. Bahkan, bisa dibilang bahwa tidak lengkap rasanya
apabila perahu ini tidak ada di sungai segah.
Sekumpulan
ibu-ibu tengah bersiap-siap melakukan kegiatan yang sudah rutin mereka lakukan
setiap minggu pagi, senam irama. Dua orang pemandu senam berdiri di atas
trotoar jalan, satu pemandu lainnya sedang mengatur speaker yang akan
digunakan. Baju ketat ibu-ibu menjadi pemandangan yang sangat menyegarkan
mata bapak-bapak paruh baya yang ikut senam di belakang mereka. Lagu dangdut
menjadi pilihan favorit para peserta senam, khususnya para emak-emak sent kiri
belok kanan yang terkadang udah kayak cabe-cabean, soalnya mereka kesini pada
bonceng tiga semua. Walaupun tempo senam cukup cepat, para ibu-ibu dengan
semangat dan riang gembira menggerakkan seluruh bagian tubuh mereka. Bisa-bisa
habis dari sini pada encok semua tuh ibu-ibu. Penjualan koyo dan balsam
nampaknya bakalan mengalami kenaikan yang cukup pesat hari ini. Hehe.
Kami duduk tidak jauh dari lokasi senam. Terlihat beberapa orang sedang berjogging ria di sepanjang jalan. Sangat sedikit kendaraan yang melewati Jl. Ahmad Yani ini, apalagi di hari-hari libur seperti hari minggu. Di tepi sungai, terlihat beberapa orang sedang memancing ikan. Entah ikan apa yang mereka incar. Di sini terdapat dua tipe pemancing, ada pemacing pasif dan ada juga pemancing aktif. Memancing pasif ialah cara memancing dengan teknik konvensional, yaitu dengan cara melempar umpan ke tengah sungai. Udah itu doang. Umpan dimakan, tareeekkk!!!. Nah, kalau yang aktif nih, silahkan liat sendiri. Susah aku jelasin. Di tengah sungai, kapal-kapal besar terlihat sedang menarik tanker batu bara yang masing-masing mengangkut tiga gundukan bukit fosil berwarna hitam. Setiap tanker ditarik dengan satu kapal dan didorong dengan satu kapal lagi di belakangnya. Pemandangan ini menunjukkan betapa kayanya tanah Kalimantan.
"''
Saatnya
membuka obrolan tidak penting antara dua mahkluk astral ini. Itulah alasan kami
datang kesini, berbasa-basi.
“Ehh, di. Coba ada ajak perempuan kesini”
“Hah?,siapa,gila?mana ada yang mau kuajak, tampangku aja
kayak gini”, ujarku, berpikir siapa yang bisa kuajakkkk??
“Si anu(menyebutkan nama seorang perempuan)ajak aja
kesini,coba aja dulu”, dengan entengnya si kampret nyebut namanya.
Suara ketinting terdengar jelas di telingaku. Tapi, nama perempuan itu terngiang lebih nyaring di pikiranku dan entah kenapa membuat getaran suara lain terasa sangat pelan terdengar. Apaansih
“Azz, aku nggak seagresif itu juga kali,cer. Lagian aku juga belum lama kenal sama tuh orang”
“Makanya. Kau ajak dia kesini, biar kau bisa lebih dekat
sama dia”
“Gila kau ini. Chattingan aja awkward, apalagi bicara
tatap muka, coeg!”, jawabku.
“Ehh,biasanya nih di, ngomong langsung empat mata empat
telinga itu lebih bisa membangun sebuah hubungan loh”, layaknya Mario teguh
memberi wajengan.
Sebenarnya si kampret nggak pernah punya hubungan sama siapapun. Walapun seperti itu, wajengan layaknya seseorang yang kaya akan pengalaman, terucap lancar dari mulut nih orang. Memberi saran ke orang lain tampak mudah karena kita cenderung tidak bisa merasakan sepenuhnya apa yang orang lain rasakan. Perasaanku terhadap gadis itu pun masih terasa samar-samar.
Apa yang dikatakan Ancer ada benarnya. Tapi yaa…..
“Malas aku cer, nanti-nanti ajalah”, jawabku pelan.
Di tengah bisingnya suara kapal dan ketinting, terdengar suara perempuan memanggil namaku dari kejauhan. Disana. Di seberang jalan, berdiri sesosok perempuan yang dari tadi menghantui pikiranku. Dia tersenyum manis kearahku. Sekali lagi, kenapa harus sekarang ,ya Tuhan?
“Eh, di. Itukan….”,
Dia mendekat
“Hai, Aldi…”
.
-Bersambung-
-Bersambung-
Ashiappp keren di
ReplyDelete