Menurutku film
500 Days of Summer adalah film romansa paling dibicarakan abad ini. Beberapa minggu
yang lalu, tidak sengaja aku menemukan thread di twitter yang membahas topik usang
ini, tetapi entah kenapa beberapa orang di internet masih saja memperdebatkan
siapa yang seharusnya disalahkan dalam hubungan antara Tom dan Summer.
Di thread
tersebut, si pemilik akun secara rinci menjelaskan bahwa Tom adalah faktor
utama rusaknya hubungan kedua pasangan tersebut, lengkap dengan rational
thinking dan fakta-fakta menarik yang
tersedia pada plot film sebagai dasar teori. Walaupun terdengar meyakinkan dan
reasonable, masih ada satu masalah dalam penjelasan si pemilik akun, yaitu bias
yang memungkinkan adanya emotional reasoning dalam menyajikan kesimpulan. Karena
teori tersebut dibuat oleh seorang perempuan, maka kemungkinan besar teori yang
mengatakan bahwa Tom adalah kunci permasalahan, datang dari perspektif kaum hawa
yang bersifat subjektif.
Jujur saja,
aku masih bingung kenapa Summer tiba-tiba mengakhiri hubungannya dengan Tom. Sepanjang
film, aku membayangkan hubungan meraka akan berjalan seperti film-film romantis
lainnya, yaitu penuh dengan suka cita pada awalnya, lalu konflik besar antar
keduanya, dan berakhir dengan ending yang manis. Namun hal itu tidak terjadi di
film ini, menurutku endingnya justru membingungkan. Apa yang terjadi pada Tom kurasa dikarenakan
oleh kurangnya komunikasi antar kedua sejoli itu. Apa yang diinginkan oleh
Summer tidak pernah ia sampaikan sendiri kepada Tom, tidak sekalipun subliminal
massage ala pop culture. 500 hari menjalin hubungan percintaan merupakan
pencapaian yang sudah cukup luar biasa, bahkan sudah pantas untuk dicantumkan
dalam riwayat hidup. Dalam jangka waktu yang segitu panjangnya, sudah
seharusnya komunikasi menjadi senjata utama dalam memperbaiki hubungan
percintaan. Namun entah kenapa hal itu bukan menjadi prioritas dalam perbaikan
hubungan rusak antara Tom dan Summer. Sepanjang periode krisis, Summer
memutuskan untuk tidak menyampaikan keluh kesahnya akan Tom ke yang
bersangkutan, oleh karena itulah Tom tidak pernah mengetahui apa yang
sebenarnya salah pada dirinya dan juga hubungan percintaan yang saat itu ia jalani. Sampai saat ini aku tidak mengetahui pasti siapa yang harusnya
disalahkan dalam hubungan Tom dan Summer. Apakah Tom?, Summer?, Sutradara?,
penulis skrip? , ataukah netizen julid abad ini?. Nobody know. Aku bisa saja
mengulas lebih dalam kasus ini layaknya seorang yang sudah mendapatkan gelar
Phd dalam bidang sosiologi, lebih tepatnya Tinder Sociologist. Ya, Tinder
Sociologist is a thing. Dengan pertimbangan yang cukup mendalam dan waktu
pengambilan keputusan yang cukup lama, yaitu 8 detik. Aku memutuskan untuk
tidak melanjutkan kajian ini.
Dari topik pembahasan
di atas, sepertinya sudah jelas ke mana arah pembahasan ini akan berlanjut. Ya,
kita akan membahas tentang politik luar negeri negara-negara timur tengah.
hahahasori. Di sini aku akan membicarakan hal-hal menyangkut percintaan dan
hubungan, walaupun aku sendiri belum pernah menjalin hubungan yang membuatku
begitu overwhelmed oleh “cinta”. Apaansih anying?wkwkwk. Ya, anggap saja ini
sebagai shitposting walaupun sebenarnya memang itulah adanya.
Kita semua
pasti sudah mulai menyukai lawan jenis ataupun sesama jenis (it’s fine btw)
sedari kita masih remaja, atau bahkan saat kita masih menempuh pendidikan
terpenting dalam hidup, yaitu sekolah dasar. Ingatkah kalian akan mitos
penggaris saat SD dulu?. Konon katanya, jika penggaris yang kita punya
disentuhkan ke tubuh cewek yang kita suka, secara ajaib akan mengakibatkan
cewek tersebut hamil, dan dua hari kemudian tidak seorangpun yang peduli akan
hal itu alias “bodoamat aku gak peduli, harusnya kemarin sudah melahirkan tuh
si Selvi.” Perasaan akan orang lain pada umur segini tentu saja tidak bisa
dianggap serius, karena kemungkinan kita akan bertemu orang yang lebih cantik/ganteng
dan lebih atraktif saat SMP akan lebih besar. Hehe. Ngomong-ngomong soal
SMP jadi ingat pas ketemu “dia”, guru matematika bercincin batu giok. Hahaha. Ok, lanjut. Di SMP lah hasrat imajinatif akan menemukan pasangan yang nantinya akan berakhir dalam waktu
3 bulan mulai bergejolak, layaknya api yang disiram dengan dosa-dosa guru
matematika bercincin giok tadi. Aku ingat satu perempuan saat SMP dulu, namanya
adalah “gk bakal w sebut di sini, enak aja lu”. Ingin kuceritakan kronologi
kejadian saat aku pertama kali bertemu, tapi ku takut yang bersangkutan
bakalan muntah cincin giok saat membaca tulisan ini dan akhirnya saya diblok di
semua social media. Oke, cukup membahas masa SMP ku.
Umumnya, ada
beberapa fase yang kita lewati sebelum dan saat menjalin hubungan dengan
seseorang.
Dikarenakan
ini udah tengah malam, beberapa fase itu akan aku lanjutkan di tulisanku yang
selanjutnya alias w cape, anying!!.
Comments
Post a Comment